Ngeblog Ala Story Telling

Berceritalah | Tertawa dan menangislah
Luapkan semua perasaan … apa adanya

Awal 2000-an gelombang penulis melanda Indonesia, khususnya fiksi islami. Forum Lingkar Pena atau FLP adalah gerbong lokomotifnya dengan beberapa masinis yang saat itu amat dikenal. Salah satunya adalah Helvy Tiana Rosa. Para penulis muda itu menulis banyak hal tentang dunia nyata keislaman, baik yang bernuansa lokal maupun internasional. Dari yang apa adanya, sampai yang tergagap menerjemahkan budaya luar. Sebagian kecil terbilang berhasil dan mulai dikenal, namun sebagian besarnya gagal dan lambat laun hilang ditelan lautan. Habiburrahman El Shirazy adalah satu penulis yang berhasil dikenal hingga karyanya meluas sampai ke layar bioskop. Sosok itu sendiri juga ikut-ikutan, tetapi masalah tenggelam atau terapung bergantung dari pendapat kawan-kawan semua. Dia tidak bisa menyimpulkannya.

Mengapa banyak yang tenggelam? Kalau mau jujur, sosok itu menilai karena ada ‘jarak’ antara penulis dengan karyanya. Penulis tidak melebur bersama karyanya. Dunia penulis adalah dunia A, sedang karyanya adalah dunia X. Tidak pernah bersatu. Pada akhirnya memunculkan opini bahwa karya-karya FLP selalu mengagungkan makna simbolis seperti ucapan salam, gerakan shalat, panggilan ala Arab, dan sejenisnya. Esensi dari karyanya tidak ada. Beberapa penulis memaksakan bercerita apa yang terjadi di Palestina. Dialognya berbahasa Arab tetapi esensi ceritanya gagal. Adanya ‘jarak’ itu memang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman pribadi penulis. Adakah penulis yang pernah tinggal atau mampir di Timur Tengah? Kalaupun ada penulis yang berhasil, itu karena penulisnya mau bersusah payah melakukan riset, chat atau berkirim email dengan salah satu warga di sana, dan akhirnya cek-ricek hasilnya.

Continue reading “Ngeblog Ala Story Telling”

Advertisements

YUK, MENULIS! SIAP?

Bisa jadi ini konsep tersederhana yang pernah dibuat, tetapi mudah-mudahan hal ini tetap bisa menjadi penyemangat buat sobat baraya yang akan/sudah menisbahkan diri sebagai penulis. Dan bukan kebetulan kalau konsep ini ditulis berdasarkan pengalaman saya.

Pre-Writing adalah konsep pertama sebelum sobat baraya terjun menjadi seorang penulis profesional.
Y : akinkan Diri
U : bah Paradigma
K : enali Diri

Ya, sebelum sobat baraya terjun bebas menjadi seorang penulis profesional, sudah selayaknya untuk meyakinkan diri bahwa sobat baraya mempunyai keinginan yang kuat dan mampu. Tanpa adanya keyakinan diri yang kuat, sulit untuk menjadi seorang penulis (apalagi profesional). Banyak sekali rintangan yang menghadang dan semua itu terus menyerang sobat baraya dari segala penjuru.

Continue reading “YUK, MENULIS! SIAP?”

Sejarah Tulisan

“Writing” adalah representasi bahasa pada media tekstual dengan menggunakan beberapa tanda atau simbol (yang dikenal sebagai sistem kepenulisan). Budaya menulis dimulai sebagai akibat dari kebutuhan akuntansi. Pada masa milenium ke-4 sebelum masehi, kompleksitas perdagangan dan perkembangan administrasi membutuhkan kapasitas memori yang lumayan banyak, dan tulisan pada akhirnya menjadi salah satu metode perekaman tepercaya yang permanen (Robinson, 2003, hal 36).

Dalam bahasa Inggris, ‘writing’ merujuk kepada dua hal, yaitu sebagai kata benda (tulisan) dan sebagai kata kerja (menulis). Kegiatan menulis sehingga menghasilkan tulisan adalah proses pembentukan kata-kata pada sebuah media, sehingga lahirlah teks-teks. Orang yang menulis pada akhirnya disebut sebagai penulis. Sesuai perkembangan zaman, lahirlah beberapa profesi spesifik yang berkaitan dengan dunia kepenulisan seperti penyair, penulis esai, novelis, penulis drama, jurnalis, dan lain-lain. Di luar itu ada orang-orang yang dikenal sebagai penerjemah dan ghost writer. Sementara orang yang mengelola hasil tulisan secara estetika dan atau tanpa gambar dikenal dengan kaligrafer (pembuat kaligrafi) dan desainer grafis.

Continue reading “Sejarah Tulisan”

W R I T I N G

Waktu

  • Sebagai salah satu makhluk yang diciptakan Allah, manusia (walau telah dimuliakan dengan nikmat akal dan hati) tetap saja mempunyai keterbatasan. Dan salah satu faktor yang membatasi manusia adalah waktu. Oleh waktu, manusia dilahirkan. Oleh waktu pula, kelak manusia akan menghadapi kematian. Karena dengan keterbatasan itulah, manusia harus cerdas dan pandai dalam mengelola waktu.
  • Waktu berkaitan erat dengan pengalaman. Waktu yang telah lalu, telah menjelma pengalaman. Manusia tidak bisa membalikkan waktu, tetapi manusia bisa belajar dari masa lalu. Manusia bisa belajar dari pengalaman. Bukan hanya pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang-orang terdahulu. Pengalaman yang tersurat maupun yang tersirat.
  • Dalam menulis, manusia akan lebih mudah menulis yang sudah pernah dialaminya. Menulis pengalamannya sendiri. “Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi (tulisan) Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri,” kata Carmel Bird.

Continue reading “W R I T I N G”